Tentang Film G30S/PKI, Ini Reviewnya

Generasi 80-90an (termasuk wis tuwek berarti) adalah generasi terakhir yang dibesarkan oleh TVRI. Tiap akhir September, TVRI punya ritual: memaksa orang-orang nonton film propaganda rezim (Suharto) yang berjudul G30SPKI. Saya selalu gak berani nonton. Denger musiknya aja udah merinding. Masih terngiang musik temanya yang cuman 2-3 not itu. Lebih ngeri lagi durasinya 3 jam lebih...serasa semalam suntuk kayak wayang kulit.
Sebagai proyek rezim yang berkuasa, film ini sukses memberikan trauma psikologis soal komunisme di Indonesia. PKI menjadi hantu dan umpatan baru. "Dasar PKI!"

By the way...saya gak akan bahas soal komunisme dan sosialisme ya. Ada banyak buku yang lebih kredibel bisa kalian baca daripada situs-situs yang mengatasnamakan agama itu.

Saya mau bicara soal film G30SPKI, film terhebat yang pernah dibikin Indonesia. Kita singkirkan saja soal bahwa ini film propaganda yang telah memodifikasi epistemologi ideologis bangsa. Yang saya bicarakan adalah kualitas storytelling dan sinematografinya.

Saya pribadi menggolongkan film G30SPKI sebagai film "noir slasher horror". Kisah dimulai dengan merajalelanya intimidasi oleh PKI kepada lawan politiknya, krisis ekonomi yang menyengsarakan rakyat kecil dan rapuhnya pemerintahan Sukarno. Gambar-gambar yang mencekam dirajut dengan music score yang eerie. Saya masih teringat beberapa potongan adegan awal meski saya lama nggak nonton ulang filmnya:

-Adegan penyerbuan sebuah masjid pada subuh dan Al Quran yang dibacoki pake clurit
-Potongan koran yang memberitakan seorang dicangkul kepalanya
-Sukarno yang tengah sakit, ia berdiri di depan jendela dan menoleh dengan sangat lambat

Terus ada satu adegan yang rupanya dipotong pada versi VCD-nya...Close up mulut seorang bapak sedang bicara.

Sampai bagian ini biasanya saya masih berani nonton. Makin ke tengah, adegannya makin mencekam. Sinematografi ketika Aidit memimpin rapat benar-benar top. Ada wide shot dari atas yang bikin saya pingin menirunya (yes I did it in my short film, Bid & Run). Dan quote yang masih saya ingat terus adalah "Jawa adalah kunci!"

Arifin C. Noer benar-benar menggarap Aidit menjadi sosok yang sangat "evil". Dia pakai lighting dari bawah, memperlihatkan pupil matanya seakan binatang buas nokturnal yang disorot senter. Semasa kecil saya udah nggak berani nonton bagian ini. Ya diberani-beranikan...sambil nutup kuping. Paling nggak berani nonton pas adegan penyiksaan. Saya cuma ingat adegan penyiletan wajah dan quote, "Darah itu merah jendral!" Bahkan adegan penculikan sebelumnya begitu mencekam.

"Bapak dipanggil presiden!"

"Saya mandi dulu!"

"Tidak usah!"

(sori, Guys...dialognya nggak persis amat ama aslinya)

Terus ada yang ditembak, jatuh ke belakang dengan badan tetap tegak secara slow motion...

Tapi seseremnya adegan itu, adegan yang paling menghantui saya adalah saat tertembaknya Ade Irma Suryani. Yang ini saya lupa bagian dari sekuens yang sama ato tidak...yakni adegan membasuh muka pakai darah yang menggenang di lantai... DAMN!!! Arifin C. Noer emang sutradara paling gila! Saya rasa belum ada yang menyamai kehebatan dia bikin adegan se-memorable (dalam artian serem) kayak gini.

Jujur aja ya...sampe sekarang saya gak berani nonton film ini utuh hahaha

Saya mencatat film horror yang saya anggap seram itu The Exorcist (Sutradara: William Friedkin). Tapi toh saya masih menontonnya sampe tamat beberapa kali. Tapi sejak saya SD hingga sekarang saya belum pernah mengulang nonton G30SPKI secara utuh. Saya selalu skip-skip buat nyari referensi sinematik aja hihihi

G30SPKI memuat banyak hal yang membuat sebuah film hebat:

-Cerita. Ya iyalah diambil dari kejadian nyata...kejadian yang sangat buruk. Ingatan soal 1965 masih menjadi hantu gentayangan hingga kini. Ditambah lagi daerah Blitar (terutama bagian selatan) juga menjadi "Killing Field" di masa itu, bapak saya sebagai anggota Masjumi (lawan politik PKI) nyaris aja jadi korban.

-Sinematografi. G30SPKI memanfaatkan gambar dengan sangat efektif. Pencahayaan rendah, kadang cuma satu arah. Pas sudah nuansanya jadi film noir. Arifin C. Noer juga memakai detail shot yang sangat berkarakter, contohnya ya Close Up mulut ngomong itu. Angle-angle, blocking, framing yang diterapkan begitu greget. Tak ada film nasional lain semasanya yang pilihan shotnya sekuat dan segreget ini....menurut saya loh.

-Musik. Tak ada yang lebih horror mendengar musik G30SPKI malam-malam. Embie C. Noer memang tak terkalahkan bikin musik atmosferik.

-Cast. Pada masanya pemilihan aktor-aktornya begitu cermat, mirip dan cukup believable. Syu'bah Asa sebagai D.N. Aidit is the best of all!

-Tak ketinggalan QUOTABLE DIALOGUE!!! Anda yang se-tuwek saya mungkin masih ingat: "Darah itu merah, Jendral!", "Jawa adalah Kunci!"

Sembari mengabaikan bahwa ini adalah film propaganda tersukses, secara kualitas sendiri G30SPKI emang bagus, terlalu bagus. Sayang saya belum menjumpai yang versi wide anamorphic. Tapi kalopun ada saya juga gak berani nonton kayaknya....Saya yang demen style noir bisa bilang ini film noir paling bagus di Indonesia....dan film horror paling seram sedunia hahaha. Jadi selain Robert Rodriguez, Quentin Tarantino, Steven Spielberg, Christopher Nolan dll. Arifin C. Noer (via G30SPKI) termasuk sutradara yang sangat mempengaruhi style saya.

Review oleh Gugun Arief

Pilihan

 
Back To Top